About Me

My Photo
Brahms Audiansha
Dipanggil Audi mahasiswa School of Business and Management Institut Teknologi Bandung (SBM-ITB). Dari lahir tinggal di Jakarta. Sekarang kuliah di Bandung kota yang tepat sebagai tempat pencarian jati diri. Audi adalah pria simple yang tidak macam-macam Hidup yang lurus-lurus. Jujur dan setia. Baik dan bijaksana. Mapan (Insya Allah) dan bersahaja. Sehat dan jauh dari narkoba. Yeah! Please don't puke haha
View my complete profile

Thursday, January 8, 2009

Noah

Hei whats up. Gw mau nulis tentang cara penilaian manusia terhadap manusia lain. Gua adalah yang konservatif dan cenderung old fashioned jadi mungkin banyak penilaian gw terhadap orang lain terkesan tidak modern dan fleksibel. Sebagai manusia yang tidak sempurna gw sadar sepenuhnya bahwa kita ga punya hak untuk menilai orang lain. Tapi realitasnya menilai orang lain adalah hal yang paling mudah untuk dilakukan selama kita hidup (setuju kan?).

Di zaman modern yang serba cepat sekarang, kita tidak bisa untuk menilai orang orang dalam aspek kecil aja. Tapi mindset kebanyakan orang sekarang ini bisa membuat sesuatu yang kecil itu menjadi besar. Ibarat kata ada seorang gadis muda belia yang pergi keluyuran malem-malem, orang-orang yang konservatif dan old fashioned seperti gw ini pasti sudah menilai negatif si gadis itu. Namun gw sadar betul kalau sebenernya itu salah besar untuk menilai seseorang dari aspek yang segitu kecilnya. Bisa aja kan si gadis itu cuma pengen seneng-seneng aja sampai malem. Ga ada yang tau kalau dia sebenernya sering beribadah dan berprestasi di konsentrasinya. Tapi kenapa ya aspek sekecil keluyuran malem-malem itu bisa langsung membuat image si gadis tersebut buruk di mata orang-orang yang kuno? Apakah naluri manusia yang tidak bisa diam ketika melihat sesuatu yang janggal dan haus akan kesalahan orang lain yang membuat orangorang kuno seperti itu? Bisa jadi.

Yah gw belajar banyak selama beberapa bulan ini untuk tidak menilai orang hanya dari aspek yang sangat kecil. Gw udah sering diingetin untuk tidak menilai orang dalam lingkup yang sangat mikro. Tapi masalahnya sekarang gw terlalu sering mendengar kata kata "terlalu kecil aspeknya untuk menilai orang buruk dan negatif seperti itu" ditujukan kepada gw. Sampai satu titik gw berpikir hal sebesar apa yang membuat gw eligible untuk menilai orang, dimana semua aspek yang gw nilai masih dibilang terlalu kecil untuk menilai orang. Apakah toleransi sudah sangat terbuka lebar untuk kaum pemuda pemudi generasi kita sehingga kita harus dapat menerima semua aspek aspek kecil yang bersatu menjadi bukit tanpa memberikan penilaian negatif? Disinilah orang orang seperti gw menemukan kebuntuan dan kadang kadang suka merasa kampungan dan ketawa ketawa sendiri.

Aspek sebesar apalagi yang membuat kita pantas untuk menilai orang ketika semua aspek aspek kecil yang di gabungkan sudah memberikan jawaban?

Ketika aspek aspek kecil yang digabungkan sudah memberikan jawaban, apakah aspek itu masih terlalu kecil?


Sebenernya 2 hal diatas itu sama aja pengertiannya. Tapi kita sebagai manusia diberikan kepandaian yang luar biasa untuk mempermainkan kata kata. Asal jangan terlalu dipermainkan aja kata kata itu. Bikin orang ketawa ngeludahin kita nanti. Hahaha

Jangan tersinggung ya diketawain karena permainan kata kata anda yang terlalu cetek. Berlatihlah untuk mengingat semua argumen kita sehingga tidak bisa dipakai orang lain kembali untuk mentertawakan kita.

haha

Adios


0 Comment(s):